Mei 2009

Ada temuan yang sangat mengganggu setelah Abah menggunakan konsep Job Analysis berbasis aktivitas sbb:

  • konsep ini sangat bagus, inspiring, tidak sulit dan cepat karena menu aktivitas nya sudah disediakan sehingga pejabat ybs maupun atasannya bisa memilih dan merundingkannya untuk menjadi kesepakatam bersama
  • setelah memilih aktivitas aktivitas dari Job tertentu [kalau bisa tidak lebihdari 20 aktivita],maka tahap   berikutnya adalah memberi bobot
  • Disini timbul pertanyaan, apakah bobot tersebut tergantung kepentingannya atau frekwensi penggunaannya?, tentunya yang bagus adalah frekwensi penggunaannya,
  • misalnya posisi manager paling tidak membutuhkan aktivitas planning, organizing, monitoring, motivating, dan controlling , dari sisi frewnsi penggunaan maka motivating dan monitoring memiliki porsi tertinggi, akan tetapi  dari sisi kepentingannya maka planning dan organizing juga sama pentingnya dengan aktivitas lainnya.
  • Dalam Job Analysis maupun pengukuran komptensi selama ini, hal diatas belum sempat dipertimbangkan padahal ukuran ini  sangat penting dalam menganalisis kinerja seseorang, itu sebabnya banyak ditemui letidak sesuaian ukuran kompetensi dengan kinerja

Dengan temuan diatas,kelihatannya kita harus memperhatikan keduanya baik kepentingan maupun frelwensinya karena yang pertama terkait effectiveness sedangkan yang lain terkait efficiency.

Ini berarti ada baiknya dalam memilih seseorang dalam menduduki suatu jabatan harus mempertimbangkan keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: